Keyword:
Dia teramat penting di binar mata siswa pungutan masa depan
Ibu kepala, dia menyerahkan tolak ukur tugas emas
Menyuruh kami mendulang tulisan mengerjakan tuntas
Guru menyentak upaya bela negara menceramah keras hingga kami tewas
Sampai kami terkapar sesak napas
Menyuruk tetumpukan pekerjaan rumah berlipat bebas
Kami mengelak, protes berbincang meski melawan kebenaran
Berlenggok seakan pintar berkacak pinggang membantah
'Jangankan mengerjakan, melihat nyala tanya jawab kertas pun kami enggan!'
Menyentuh, rasanya kami tak sanggup hingga terkulai gemas
Kami punya hak menentang, meski di akhir cerita koyakan rumit murid acapkali serbasalah
Membuat kaki kaki perkasa kami bergetar menyerah
Sebab sepatu, pecut sudah melayang membuat gencaran keberanian kami terbelah sudah
-Shelmatira-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar