Jumat, 12 Januari 2018

Day 31

Keyword:

Berliku jalan kita pijaki sebagaimana hidup menantangi
Meremuki kaki-kaki kecil orang tertindih

Tahukah hidup memberi banyak amanah menampar tanpa perlu kauingat setengah mati?
Ada pilih-pilih panjang, tapi jangan berlama jengah kapan jadi berani

Inilah saatnya, lakukan sekarang sampai titik darah penghabisan
Sampai tujuan olengmu seolah mahamudah untuk diremas tangan
Seolah apa pun hikmah hari ini, itulah lintasan licin bersyafaat suatu tahun keringat berluapan

Kau tahu apa kata api?
Dia tetap berkobar meski terhadang angin
Dia tetap kokoh menggelungkan hangat meski tahu suatu saat akan habis

Seperti itulah hidup, jangan pulang dulu, Sayang
Hingga ragamu seratus persen lelah ditendang takdir

Berdoa, berusaha, berterimakasihlah pada sosok tersembunyi
Sosok berangan tinggi membuatmu bangkit

-TAMAT-

Day 30

Keyword:


Aku rindu semerbak cintanya menenangkan jiwaku
Pada hujung tahun, aku kian patah putus asa menanti hadirnya pilu
Hatiku berdegup resah pasal kenangan yang bersekutu,
Mereka ulang kenangan terpendam selama dekade tahun

Hingga aku tersungkur sesak
Dadaku mengempis merindu dekap mendesak
Air mataku turun indah sebagaimana air terjun mengalir hebat
Tak terhingga, tak terbatas seolah memelas sosok itu datang
Ijinkan dia kembali, meski nanti raganya tak tergapai regang
Meski nantinya mataku seakan tiada guna melihat bayang lincah sisa abu kematian terbang

Sebab yang kubutuhkan hanya bisa merasa langkah penemannya merangkul erat
Dan sapuan angin arwahnya mampu menenangkanku cermat
Maaf jika rinduku terlampau berat

---
Tinggal satu part lagi, maka lantunan puisi akan segera usai.

Day 29

Keyword:

Mengetuk pintu menuju damai dia lakukan
Bertumpuk, ratus buku dia jelajah tak segan
Lantas, mengapa hatinya masih terasa hampa seakan tiada massa?
Serta otaknya terasa tumpul kosong memberat
Mengapa, tolong beritahu dia agar usahanya berbuah berkat!

Mengaku tak mengaku, raganya seolah ringan tak tahu apa pun
Kemarin dia belajar, esoknya dia lupa
Hitung jumlah pasal angka saja dia tak tahu berapa
Jinjitan kaki berlari meraih ingin tak kasatmata meretak bersua
Alangkah harus dia raup pucuk emas puncak segala dengan bertapa?

Kawan, mengapa semua dirasanya berbeban tiada guna?
Kemudian datanglah gadis seukur jari kelingking sepadan
Menggeram, 'Janganlah jadi sempurna, tapi jadilah pelengkap untuk diploma bahagia Tuhan.'

Maka hidupmu akan jauh lebih menyenangkan.

Day 28

Keyword:

Wahai penjelajah dunia!
Seberapa lama kaumanda menaiki tanah lain di ujung karunia?
Seberapa lama kau menyerahkan pengalaman atraksi pada pijakan kapita?

Bersama, kau menikmati alam dengan bertahan ke iklim ekstrim cuaca
Suhu meningkat mengalahkan kemampuan menambah eluh lelah
Tapi, si penjelajah tak memutus asa terus melangkah
Kaki lemah tertimbun lelmbutan tanah bergerak meski tanpa memamah
Coba rasakan, hidup tanpa makanan sudah terlewat mudah!
Tinggal bagaimana cita harap dia raih bersama tawa anti gundah
Siapa bilang menginjak menodongkan pedang semangat melantur resah?
Kita, mereka, semua memijat puja, maka jangankan keluh desah,
Disingkirkannya sejauh garis pembatas meliuk vertikal
Membuat semuanya aman, terjauh dari marabahaya

Day 27

Keyword:

Nyatakan sah!
Telah diikrarkan sumpah janji menjaga
Bersama deru seperangkat alat salat dibayar tunai bertenaga
Dia, sosok suami nanti mendatang sejati
Wajahnya cekung berbentur rasa sakit namun kokoh dihantam badai
Sampai hari ini, lihatku dia men-sahkan hubungan lama berani mati
Bahwa cinta suburnya akan melilitku erat tanpa berharap materi

Seperti pada atom, dia intinya
Dia badan sel penyokongku meski kecil-kecil tak kasatmata
Jika muatannya negatif, maka bagikulah merubah positif
Terkadang kami netral sama narsis
Menyatu diri, membagi tawa sepenuh hati
Bergelung ombak kencang rival kami tuntun berkawan mengikat hubungan baik

Panggilah dia tokoh sampingan pelengkap cita rasa hidup
Tetapi samakan dia denganku, si misteri untuknya di malam kelabu

Day 26

Keyword:


Dia punya hak sepanjang sorban Ajisaka
Kuasanya gagah berani menuntut keji, kejam negara
Meski terpatah, janjinya tak gentar memberi sungguh bercahaya
Maka, panggilah dia Bapak Proklamasi bergelar adika
Melakukan segala susah tanpa memicu tanya bagaimana bisa maupun jika
Laksanakan, imbalan 'kan bergilir macam piala pada akhir ikhlas berseka

Kawan, dialah sosok pahlawan nyata peneguh kebaikan jiwa
Tuturnya perkasa merasuk di raga rakyat guna jadi penegak benar
Bersama jua tataan langkah dikoyaknya keras cita-cita gembar
Mempersamakan kasta tiada berbeda semuanya kembar

Kawan, dengarlah suaranya!
Dengung juang pendorong keluar penjajahnya teramat merdu terlantun seterusnya!
Menyanyikan bunga istimewa petuah kerangka kemerdekaan


Maka kenanglah jasanya sebagaimana kita menghormati usaha dulu-dulunya

Day 25

Keyword:

Tahun baru datang menyapa dunia
Terompet perayaan menyeruak terdengar bersamaan hibat sanak keluarga
Menari berteriak mengempas derita masa lalu jelaga
Bersama, kami berseru semangat menanti hadirnya bidadari masa depan
Menangkup peri pemberi serbuk bahagia cinta selipan


Sesak hampa murid pelajar tercabut sudah
Libur telah tiba!
Waktunya mereka bernyanyi suka cita bertemu saudara jauh sekalian
Mengucap salam permintaan bersama agar tahun ini jadi keberkahan
Agar kali ini saja sentosa menyelimuti raga pada Tuhan
Berharap-harap nyata supaya kekekalan jiwa beradu bersama keberuntungan


Cinta kasih mari tebar berdebar bersama!
Tahun baru, saatnya hati disucikan dini berpikir 
Sang dentang fajar, mari persilakan menemani rasa bergilir


Bersahabatlah semoga tahun ini menjadi tahun yang mulia

-25 Desember
Puisi untuk menyambut tahun baru sesaat mendatang.


Senin, 08 Januari 2018

Day 24

Keyword:


Jika kotoran melambung tinggi menguarkan bau sengat
Menetralkan bersih meluasruah pada jalanan padat
Akankah kendaraan tanah abang dapat melewati benih racun untuk waktu lama?
Hanya masalah waktu, kekacauan bau semerbak mengamukkan rakyat

Sesungguhnya, masalah sampah biotik, abiotik juga perihal tanggung jawab bersama
Mengapa mereka menyalahkan penjabat kecil, menyeru fitnah bermandi serapah?
'Bukan urusan kami', ujaran tak masuk akal terlontar jauh-jauh hari
Ketahuilah, mereka celik pada berita beritahu pada sampah terabai jalanan
Dan rekatan fakta tak mempan membisukan, merubahnya menjadi berubah

Kemudian sang pendidik bijak ikut andil mendorong kemajuan sesungguhnya
Menyeru hebat bahwa sampah tiada akan terselesaikan bila persatuan melebat


Sebab masalah realita usai merdeka suatu bangsa ada pada rakyatnya 

Day 23

Keyword:


Wahai, mimpi, apa ramalmu perihal orang dakar perusak harapan kami?
Dengarlah, embus terpatah kami kian tersengal karena debur senjata mereka sakit
Harapan kami mulai mengabur, menghilang secepat ombak menghajar sampan nelayan kecil
Harapan yang makin menjauh terenyah awan menangis di angkasa langit

Apa tanggapmu perihal orang teguh hati merusak benteng kekuatan kami?
Wahai Tuan mimpi, apa sebab bebatuan tajam runtuh tepat di hati,
Mengoyak kesepakatan bersama aliran darah untuk jadi berani?

Sedang suara kami lemah tak sanggup menerangkan lantang
Bahwasanya kebersamaan kami para pejuang merdeka menurun lengang
Bahwasanya terobosan dedaunan penyejuk menepis kenang


Malahan, sang tuan mimpi mengubur eluh, desah kecewa sedu sedan
Bilangnya, justru karena kalian berpegangan tangan menyatu tak segan,
Kaliannya yang paling mampu untuk bertahan

Day 22

Keyword:


Rasa hidup bervariasi macam pelangi
Berwarna-warni seindah embun di pagi hari
Tapi, sayang, matanya teramat buram menilik budi selipan takdir!
Anggapnya apati, banyak provokasi teranulir

Adakala dia merasa sendiri pada bumi semegah planet-planet lain
Terasing, menghening bersama deru seru angin
Tatapannya menunduk, pikirannya terbang merenung hebat setengah mati,
'Akankah aku diperlukan pada proses sang suratan taksir?'
Tiada sesuatu membuat mulutnya tersungging cerah kembali
Inikah saatnya dia pulang merengkuh panggilan Tuhan di lain hari?

Tidak, tidakkah dia masih punya buah hati perengek kasih sayang panjang?
Masih ada jalur pulang, meski telah kuncup kesempatan arwahnya bersemula pantang


Tapi, sayang, dia telah lelah

Day 21

Keyword:

Ribu, ratus kaum adam mulailah bertindak jangak
Menyakiti hawa, merusak keterbangan angan seringan kapas
Tanpa pikir cabul memikul itu merasuk sendu pada masing rohani korban
Menyesakkan udara, memanasi gairah berhasil malu

Ayah, apa jadi bila anakmu ternobat dalam salah satunya?
Akankah dosa, jinjingan beban mampu kautanggung sekuat baja?
Ibu, berkenankah seluruh harga diri terenggut semudah suaka khatulistiwa punah?

Air mengalir mengisi dahaga penuh
Makanan melengkapi gizi meganti sakit yang lebur
Jika segala harta Yang Kuasa kuraih hanya bersandang korban,
Lantas duka yang mana dengan kerugian mengaku orang tua seorang jalang?

Kecilku dulu diisi suara senang burung pertanda damai
Tanpa pilih linglung kaurasuki kalbuku dengan sejurus kasih penghangat nurani


Jangan sampai aku jadi salah satu sang penghancur hati, pengecewa paling ampuh

Day 20

Keyword:


Kalau suatu robohan duka menimpa,
Lantas apa yang paling mendalam menyosor luka?
Jika remahan perpisahan berkata inilah saatnya,
Apa yang 'kan kau kakukan terakhir kali di ujung cerita?

Ada yang gigih, persisten menerobos pilihan mustahil
Meski sakit berbuah nihil
Di titik hancur, kau hanya mampu merembesi dedarahan dengan tataan ikhlas
Kau hanya sanggup meremas dada gentar tertusuk kebas

Maka, kawan, apa yang sesungguhnya kaucari?
Cekatan tentukan, lakukan kala dentang waktu memberi kesempatan
Biar penyesalan barisan kisah tak menghampakan relung seterang sinar rembulan

Bilang, katakan sekarang selagi ingat harapan masih terbuka lebar
Jangan menunda kasih sang waktu dengan mengutarakan sisa-sisa curah samar
Biarlah ketenangan di sekujur raga mekar,


Sebab kesempatan tak selamanya datang pada orang yang sama

Minggu, 07 Januari 2018

Day 19 (Alamku Hancur)

Keyword:


Alam punya bukti kuat berkiat pasal manusia
Pasal penduduk penghancur segala sumber dari pucuk hingga ke akar
Di nalarnya, manusia ialah simbol nafsi dan girah
Mereka berakal sampai nantinya semua berubah menggelap kehabisan daya

Seperti baterai, manusia bukan sosok berarti bila tiada listrik
Mereka butuh penopang alam, pemenuh bahan baku distrik
Beda hal pada mereka penganut ilmu-ilmu ajaib
Ilmu tak kasatmata dunia lain berujung mala petaka mati

Syukur, bagaimana membagi cinta serta benci menjadi utuh?
Syukur, samakah perusak dengan pendobrak perlindungan akhir udara?
Pada atmosfer, oksigen saja telah berbalas banyak berkade abad
Lantas apa sebab-akibat mereka merampas bintik-bintik penting,
Hanya sebatas menuntas kebebasan nafsu duniawi?


Alamku hancur.

-Shelmatira-

Day 18 (Nilai luar dalam)

Keyword:


Garukan pipih terlukis di dermaga ajang pelampiasan diri
Pada pilih-pilih unik, satu kisah terselip menegangkan hati
Dia, salah seorang di antara seribu orang helat
Rupawannya bersinar laksana pelangi usai lewatnya sang dewa air mata
Segenggam pisau disenyapkannya balik jeruji
Dia mengetuk lancipan senjatanya mengukir guratan sendu
Alat itu bukan guna menyerang, namun berkisah semu

Cerita bongkar-bongkar kata itu mengebaskanku wagu
Deritanya lebih hebat dibanding masalah berbelit umum

Tak terlihat dia cacat
Sematan seringaian dia meringis gertak
Anggapan putarbalik fakta bahwasanya dia jahat

Ketahuilah, yang tampil benderang belum tentu tahan lama
Dalam gelapun tiada elak tanda dia mungkin jauh lebih bersinar


Don't judge a person by appearance

-Shelmatira-

Day 17 (Kata Ibu)

Keyword:


Pernah, diaceritakan liku hidup menghadang masalah kalbu
Dia beri retas kisah pasal sakitnya menumbuhkan anak hingga tinggi ke pucuk
Lelah membelenggu katanya menguasai degup raga dan jantung
Bilangnya, merawat sebiji buah hati semenyenangkan menapaki surga-surga palsu
Tapi aku tahu segala tak semudah membordir ikatan baru

Wai,
Aku menetas atas semua asuh pemanjaan dini
Eluhku tumpah pada detik gagal tanpa berhasil menepi
Terhuyung, aku kebas di tengah luasnya pengalaman berabstraksi
Kendati aku jatuh hingga dia menopang beban susah bangkitnya aku
Dia hanya bilang, sabar
'Bangkitlah, lupakan bahwa kamu pernah jatuh'

Samarata-nya dengan bubuk semangat berlapis lain,
Timpalnya lagi kian menyesakkan hati,
'Jangan pernah menyerah meski harapan sisa sekeping biji'


-Shelmatira-

Day 16

Keyword:


Aku lahir dari rahim pahlawan maut
Sepanjang hidup, menghabiskan serat sisa perjuangan menghidupkan sebongkah nyawa
Padamu, pada ruptur uteri
Mengapa harus aku yang mendapat sesal atas hilangnya ajalmu?

Mengapa hadirku harus mewafatkan semua kekuatan akhirmu?
Sungguh, rasaku ingin mengganti adaku dengan adamu
Dalam kompulsi mencuat dari dasar agar aku lekas menyusul pergimu
Aku ingin memindah hidup dengan posisi aku menggelepar mati
Sedangkan kamu yang bernapas menyusul bahagia pada catatan patut
Menuntut ingar-bingar kebersamaan senonoh tanpa wajib membangkitkan arwahku
Menciptakan aku dalam benih-benih cinta meski harus mengacu adrenalin segar

Biar diperjelas bahwa sepatu akan sia-sia tanpa pasangan hati
Seperti aku yang kehilangan wujud lain penopangku berdiri


-Shelmatira-

Day 15

Keyword:


Terima aku sebagaimana alam merengkuh jiwaku lembut
Jika ada huru-hara jatuh, biarlah aku mendekapmu menjauh
Aku hanya ingin mendepak seruan genta angin sebuah pertanda
Bahwasanya kamu ada bersisian denganku memijaki rerumputan cinta
Tapi hanya sebatas detik waktu sebelum kamu empas aku seringan harapan

Ada kala, aku terlampau rusak untuk sekadar bersanding membagi
Mengikutsertakan setia tanpa pikir kamu memahami
Aku menerangkan panjang pendek kesaktian hari yang menelan jam-jam di dinding
Tanpa mengerti bahwa kamu terlampau lelah mendengar kisah-kisah tak resi

Maaf, sebuah kepercayaanmu tak mampu menyadarkan kumparan benang di sisi
Ada mimpi, namun mataku buta tak peduli seberapa inginmu dalam heningan sepi


Aku apkir menyesali
Maaf

-Shelmatira-

Day 14

Keyword:

Begadang menggarap gabir proyek segudang
Dan probabilitas hampa sebab hanya rambang
Seadanya, ragu menyelimuti seluk dalam ketuntasan
Menunggu harap lekas usai meski kocar-kacir berceceran

Aku meresah gundah pada pendahuluan karangan
Semua tatacara tutorial tiada guna kala hasil tak sesuai harapan
Pada ekspetasi kubersenda gurau apa maksud menginginkan lebih tanpa intropeksi diri
Menanti panjang merutuk gemas pada deadline pecah melolongkan desah napas karyawan

Siapa lagi akan datang menegadahkan tangan menawar jasa
Persiapan menye-menye rekaya leha-leha kemarin menggemparkan lusa
Tutur mereka 'kan terkatup, otak berhenti mengatur seimbang berbahasa

Seonggok rencana penting patut dimulai cekatan dengan semangat menjulang
Kemudian senang hatilah keberhasilan menjulur menawarkan bantuan
Menjebloskan pada jalan maharumpang semaju masa depan

Day 13

Keyword:

Pada genangan masa lalu si peresah tenggelam gelap
Menggerung pasrah memuja harap seluruhnya tersulap
Menjadi lebih menyenangkan meski pudar dan berantakan
Meski harus enggan tak enggan pada semua sosok tersebut mantan

Jika, sisa jejak kelabu itu tiada lintas pada otak serta pikiran
Pastikan semua resahnya tercabut hilang terkendalikan
Cangkir-cangkir air memoar takkan mengalir deras bersenandung berkawan

Dengarlah, tagar guntur kecewa kan mengusik gendang telinga
Membuat sang peresah lantas kalang kabut kian terombang ambing berputarnya jiwa
Pendiriannya merewang, semuanya remang hingga degup lelah terkapar rawan

Ijin, singkat detik menit sang peresah pelan-pelan galau kepayahan
Pikirnya melawan kenangan semudah raganya bergerak
Kendati nyawanya sahaja menjelma kanan kiri bingung terhadap cinta teralak-alak


-Shelmatira-

Day 12

Keyword:

Goncangan bumi menjolak hebat
Walau rembunai, kekuatannya besar beramai-ramai
Skala ritcher melentang lepas membuktikan kekuatan seperti siung menggigit

Mahadasyat, puji Tuhan Maha Kuasa!
Gempa lantas terjadi menggebrak rerumahan tak berdosa
Meruntuhkan cekatan semudah mengayunkan tangan pada udara
Segumul duagumul insan berlarian laksana semut kecil terbirit-birit
Hilang arah mencari keputusan bijak,
'Menjauh atau menolong korban yang lebih dulu tertimbun?'

Adakala gelombang getas bumi memecah hening
Menikung kilat secepat macan berlari
Menikung lekat menyisakan kehancuran riil

Tanyakan pada narasumber handal mengapa,
Maka jawaban pasti adalah alam mengamuk pada mereka
Sebab tingkah kejam bersamaan tragedi jahat tangan mereka mengganggu pergerakan dunia


Kemudian balik sang penjawab menjebak seuprit tanya,
Tebaklah, bagaimana bisa?

Day 11

Keyword:


Pelajaran layaknya preferensi aktual
Dia teramat penting di binar mata siswa pungutan masa depan

Ibu kepala, dia menyerahkan tolak ukur tugas emas
Menyuruh kami mendulang tulisan mengerjakan tuntas
Guru menyentak upaya bela negara menceramah keras hingga kami tewas
Sampai kami terkapar sesak napas
Menyuruk tetumpukan pekerjaan rumah berlipat bebas

Kami mengelak, protes berbincang meski melawan kebenaran
Berlenggok seakan pintar berkacak pinggang membantah
'Jangankan mengerjakan, melihat nyala tanya jawab kertas pun kami enggan!'

Menyentuh, rasanya kami tak sanggup hingga terkulai gemas
Kami punya hak menentang, meski di akhir cerita koyakan rumit murid acapkali serbasalah
Membuat kaki kaki perkasa kami bergetar menyerah

Sebab sepatu, pecut sudah melayang membuat gencaran keberanian kami terbelah sudah


-Shelmatira-

Day 10

Keyword:


Cintamu ada bersama pasuel seutas
Mengguratkan kenangan atas dentuman isi kaleng bersama remukan kertas
Kubiarkan aksara itu terbaca di jelimat mata tersirat

Aku ingin kembali menetas,
Sambil berdendangbiduk hilir melupakan cita cintamu lama

Aku ingin menjadi nihil tak kasatmata bagai bayang
Dapat berkeliaran menghapus jejak memori menyerang
Harapku akan amnesia menjadi bebal
Tersenyum ria tanpa kenal siapa gerangan kamu yang gagah dan kebal
Melangkahi jiwaku menghanyutkan semilir rintik tangis sambil merapal,
'Akankah dirimu yang kudamba siang malam bersamaan rapahan impian?'

Kamu pernah kekal mengembara hatiku
Menyeretku erat dalam detak jantung pesona jitu
Memerahpadamkan pipiku hingga tersipu malu
Kamu terlalu menjelajahi kasih hingga aku terlelap sendu


Dan aku ingin melupakanmu ....

Day 9

Keyword:


Dia penindas jejeran kaum jelata
Lantaran meninting baik pun tak dapat
Semalam suntuk kerjanya memakan uang haram
Menyisai gumulan dosa massa suram

Seperti insan dehidrasi,
Dia tak jelak menikmati rasa tertikam orang tertindih
Merebut ketenangan pelik warga kala kekurangan nasi
Menggemparkan isu rekayasa visi misi

Harta mereka milik kami!
Begitu katanya, menyejajari pangkat tertinggi beramunisi

Hanya pilihan bangkit berdiri menegak berani bermandiri
Sekadar merengkuh erat kegelapan mereka mampu mengerti
Bergaya strategis menawar harap pada kesempatan sempit
Lantas menyuap, korupsi merayu sengit

Serakah, diraupnya suka hingga ke akar-akar!
Menyalahkan kebenaran menjadi viral dan tenar
Tutuplah mata, kebijakan dilihatnya samar
Hanya tinggal hitam menjajangi segala ingin merasa besar


-Shelmatira-

Day 8

Keyword:


Dunia hancur, kawan!
Ribuan tangan mengambil hak asasi melawan
Tangan tak suci datang merebut remah sisa semangat
Berbondong-bondong sang tikus berdasi mendepak segala mengaku bangga

Kawan, apa kabar duka bumi pertiwi?
Serpihan kenang peninggalan nenek moyang tak sampai dimengerti
Bebatuan mitos nan variasi cerita rancu disingkir tak peduli

Pernah, sang penghancur berdempak suka pada cinta-kasih semesta
Memasang topengnya licik berbasa-basi tampil resi
Ada harapan kabur dari buah bibir rakyat
Gerombol penjajah dunia menyebar informasi salah muara masalah
Kepingan janji dianggap aktual tapi dikibas seolah tak penting

Dunia rucah, perlahan usang bak buku-buku tua
Ancaman perintah menyeruak lepas menyelimuti atmosfer kedamaian
Membuat rakyat gentar, alamnya menyesak

Kawan, ketahuilah kejahatan tak selamanya datang dari arah salah lantang
Dia dapat memata-matai misteri dalam kubung baik bersama pendukung hak terlantar


-Shelmatira-

Day 7

Keyword:

Mengapa harus cintaku yang kau remukkan hingga mati?
Ada ribuan cinta lain jauh lebih berarti
Mengapa pilihmu jatuh pada cinta lepuh milikku sendiri?

Seketika aku redup, tak kuasa menahan gejolakmu
Tak kuasa menangkis kasihmu
Sayang, mengapa harus cintaku yang taajul kamu khianati?
Kamu datang mendekapku manis
Kemudian mengucap decap pergi kala hatiku tlah kamu hancurkan sejak dini hingga menangis

Sayang, aku rapuh, cintaku tewas
Cintaku hilang dalam hutan tak tahu arah
Segala hangatmu sirna secepat hatiku melemas
Mengapa kamu dongkrak lara di hatiku terlalu cepat?

Kalau kamu ceritakan legenda perombak hati
Jika saja kamu dengungkan alasanmu mendekati degup ragaku rapi-rapi
Maka akhirnya lelah gundah tak menghampiri
Jelaskan saja, aku tak akan melarang janji, semua mimpi-mimpi

Mengapa?


-Shelmatira-

Day 6

Keyword:

Semburat cintanya indah bagai rembulan
Apas, teramat elok menyapa raga
Kobaran semangat cintanya tak pernah alpa
Selalu ada, selalu nyata memberi kehangatan lama

Kapan lagi kasihnya melesak hebat?
Membuat tubuhku mendadak gentar
Meloroh baiknya dia pun hebat mendesak dada
Menghisap hati, terpana lunglai merana

Cintanya, bercahaya laksana bintang di angkasa
Bertumpah rapi menghias langit-langit pikiran
Membuat sang penyapa mendadak lemas
Membuatku seketika terobsesi mengempas ilusi bayang
Menyatakan riil dan terpercaya keelokannya

Sayang, cintamu kutunggu setia!
Menanti hadirmu mengulurkan tangan memberi sayang
Mengecup dahi meluruhkan semangat
Merombak erat jaring-jaring pinta lantas menjerat

Merengkuh, kudekapmu dalam detak waktu panjang
Menghirup napasmu seolah merindukan hadirnya almarhum lara

Aku terbuai pada jatuhnya iris mata berkibar
Lantas, bisakah kubuyarkan segala resah dengan balasan cinta jauh lebih besar?

-Shelmatira-


Day 5

Keyword:


Uang jadi prioritas membelah hidup
Dia menjadi prakata abdi manusia maju
Menjelma menjadi kertas, koin sebagai penghilang ripuh
Menukar posisi dari barter tersentuh

Berapa dekade ada untuknya? lemahlah aku tak tahu
Ada banyak kategori masa nan zaman di mana dia tumbuh
Menjadi barang diabdi penyejahtera sepanjang waktu
Menyosongkan diri menjadi barang penting di dasar saku

Dia mampu menggantikan perhiasan, jasa
Malahan, dirinya mampu menukar asa
Uang ternobat sebagai hal ajaib rentan akan rusak
Entah, namun hadirnya jelas menggolakkan sejauh mata menyapa
Kala dentang jam meliuk, kala itu juga sang uang beredar menebas duka
Kala itu dia tampil menjadi sogokan berpilar
Uanglah penentu kapan orang merasa nihil mendekam suka

-Shelmatira-

Day 4

Keyword:

Beliau mengatupkan diri saat-saat terakhir
Jiwanya melayang bersama deburan kenangan pahit
Matanya terpejam rapat, seolah enggan lagi melihat dukanya dunia kini
Dia lelah, maka ini saatnyalah dia berhenti berapi-api
Menanti waktu bergerak hingga dunia tak lagi terlihat mati

Lihatlah! Dunia terlampau sakit usai tumbuh jejeran manusia sakti
Manusia perombak bumi penghancur jejalan landasan terpati
Yang menguasai seluruh petuah-petuah adil
Mencari kesenangan semata menyuri andil dan alih

Sebab itulah kini dia memilih mematikan diri 
Hingga pemandangan nista, gila di depan tak tersambut mata lagi
Dia mematikan diri sebab ingin mencabut segala penat dan galaba rasa sedih
Dalam temaram ajal, dia memberi sapaan janji
Bahwa harapan tertatih itu akan bangkit bersamaan pengabdi baik setia bumi

-Shelmatira-

Day 3

Keyword:

Jatuhlah dia pada lubang-lubang ketabahan
Reseptiflah dia menerima jejak reruntuhan sisa pengorbanan

Jika ditilik lamat dia tak pernah merengkuh tindak tanduk durja
Setiap masalah dia tumpas tanpa harap-harap puja
Dia, bagai ruh jabata pengompas penguasa alam
Dia laksana kilat petir di kala senja
Dia berbeda tetapi kaya akan hasrat juang berjiwa

Katakanlah, sayang, dia patut memeluk rasa suka!
Guna membuatnya percaya bahwa sengsara tak akan mengitari raga
Agar dia lekas percaya bahwa kata pulang bukan jalur terindah

Dia penuh nasionalisme, melindungi asa-asa rakyat
Kalau dia berbalik, siapa yang akan menjadi sumber berkat?
Dialah bunga juang memikat
Paling bercahaya, berani meski pelan-pelan tersekat

Dia bak galaksi di raga-raga nyata
Dia penyinar angkasa jauh dalam pesona kuasa
Jadi beri saja dia kekuatan untuk melawan gelapnya jagad raya
Kasih dia rasa suka supaya langkahnya menegar mendepaki penjahat semesta

-Shelmatira-

Day 2

Keyword:

Keadaan senyap, gemilang lagu itu terdengar
Alunan piano membising berdendang, berjajar
Not not angka dia lantunkan bagai menyanyi di atas gurun sahara

Dia memainkannya setenang menghapus duka

Jemari lentiknya menari lincah tak tergantikan
Senyumnya turut mengembang, mekar jauh bercahaya dibanding mentari di ufuk barat
Kepalanya bersenandung elok membuntuti irama-irama bahagia

Nyatanya, bermain musik mampu menimbulkan percikan penghapus air mata
Nyatanya, menjentikkan jari di atas piano mampu meluluhkan semua derita
Lagu-lagu cinta dapat melunturkan pendapat mereta-reta
Sejauh nada berlari sejauh itu juga terkabullah seluruh pinta

Tatkala mabul, piano adalah kawan tercinta
Musik-musik itu mampu meloloskan rasa gembira bermandi cita

Sepanjang sejarah, musik adalah ramuan sihir keberuntungan
Musik punya kekuatan penyirna kegelisahan
Jika musik terdengar, sepanjang teka-teki tragedi hidup akan terjawab melalui dentingan suara
Musik bagai doa-doa ajaib, penyalur rasa sengsara
Kalau esok lusa musik tiada, maka gelungan tangis tak berkesudahan akan kembali datang
Maka rengkuhlah musik seperti lirik mendekap lirihan gamang, Selama dia hadir memberi kilauan pertanda-pertanda

-Shelmatira-

Day 1

Keyword:

Datanglah penyuci jiwa!
Dia ada, menangkupkan jari sambil bernanang
Jelimat matanya tersirat sedih bermuram durja
Mulutnya bergetar sendu membisu laksana batu tak tenang

Dengarkan suaranya, wahai penemu rahasia!
Biarlah dia tahu seberapa rumitnya memecahkan misteri jenaka
Biarlah dia tahu seberapa ringkuh konsekuensi mengelak variasi memoar panjang
Seperti itulah pencabut nyawa akan datang melirik lintas bayangannya
Lalu mencabut segala raga yang menjejaki kawasannya dengan alasan menguak rahasia

Ada keinginan-keinginan sepuh
Ada kelelahan panjang menunggu bahagia sampai melepuh
Tapi segala hadiah hanya berbalas kecewa, rasa rapuh
Terasa sudah kekejeran pada kedua tangan yang sedari dulu selalu mengambil hak-hak lain di malam kelabu
Maka, kesedihan itu makin nyata sebagaimana angin menyapu daun
Sengsara itu akan merasuk kalbu, membawa sesal kesal baru

-Shelmatira-

Prakata

Haiii! Jadi tulisan ini aku buat dalam rangka 31 days writting challenge yang diadakan komunitas menulis rebellionID melalui wattpad.

Jadi, nanti, di sini aku mau nunjukin puisi dengan judul maupun tanpa judul—yang pastinya berkaitan dengan keyword-keyword tertentu.

Untuk melihat versi sebelumnya, kalian bisa mengecek wattpadku: @shelmaatira

Di sana kalian bisa baca karya-karyaku yang lainnya.

Khusus puisinya, kalian bisa baca melalui tulisan ini. Thank you!